Inilah Penyebab Anak Berperilaku Nakal Dan Sering Membangkang




Sahabat Saya Sekalian | Buat kamu sekalian terutama yang sudah memiliki anak, ketika anak kamu melakukan tindakan yang buruk atau berbuat nakal, apa sih yang akan kamu lakukan?. Mungkin, kebanyakan dari kamu akan menjawab, mengajarinya untuk bersikap lebih baik.

Akan tetapi, tidak sedikit pula orang tua yang tidak segan-segan melayangkan pukulan pada anaknya, ketika sang anak berperilaku buruk atau nakal. Atau mungkin kamu juga seperti itu sahabat?. Di beberapa negara, memukul anak dianggap sesuatu yang wajar. Terlebih lagi, ketika orang tua berusaha mendisiplinkan anak mereka, yang tidak mau patuh.

Namun, para ahli dalam bidang orang tua dan anak di seluruh dunia, sebenarnya masih memperdebatkan mengenai cara mendidik anak dengan pukulan ini. 

Tetapi meta-analisis terbaru yang berdasarkan penelitian selama lima dekade, tetang cara mendidik dengan pukulan dibagian tubuh tertentu, menerangkan bahwa semakin sering anak dipukul, justru semakin besar kemungkinan mereka untuk membangkang terhadap orang tuanya.

Inilah Penyebab Anak Berperilaku Nakal Dan Sering Membangkang

Para peneliti juga mengatakan, bahwa anak yang sering dipukul rentan mengalami masalah kesehatan, berupa trauma, masalah kognitif, meningkatnya perilaku anti sosial, dan sifat agresif. Studi ini dipublikasikan melalui Journal of Family Psychology.

Baca Juga : Inilah Alasan Membandingkan Anak Dengan Yang Lain Ialah Hal Yang Buruk

Sejauh ini para ahli mengatakan, bahwa studi mereka mengulas lengkap mengenai dampak yang bisa muncul, akibat mendidik anak dengan cara memukul. Dalam analisisnya, sebenarnya mereka mencakup juga bentuk lain dari hukuman fisik, yang sudah dijelaskan pada karya-karya ilmiah sebelumnya. Namun tetap lebih spesifik pada efek dari memukul anak.

Elizabeth Gershoff, seorang Profesor dari asosisi human development and family sciences, dari Texas University di Austin. Beserta asisten penulisnya, yaitu Andrew Grogan-Kaylor yang merupakan seorang Profesor, dari Michigan University School of Social work. Mereka berdua, telah meninjau hasil penelitian selama 50 tahun, yang melibatkan lebih dari 160.000 anak.

Penelitian kami berfokus pada apa yang kebanyakan orang Amerika sadari sebagai tindakan memukul biasa, bukan lebih kepada tindakan yang menjurus pada kasar. Kata Gershoff.

Mereka menyimpulkan bahwa ternyata, ada korelasi antara pukulan pada anak-anak dengan 13 dampak, dari 17 dampak yang berhasil mereka temukan.

Kami menemukan, bahwa pukulan berkaitan dengan hasil merugikan yang tidak diinginkan, dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan kedisiplinan secara langsung, atau pun yang bersifat jangka panjang, seperti halnya apa yang diinginkan orang tua saat mereka memukul anaknya. Sambung Gershoff.

Para peneliti itu juga bertanya kepada orang-orang dewasa, yang pernah mengalami hukuman dipukul oleh orang tuanya semasa kecil, mengenai dampak jangka panjang yang terjadi akibat tindakan tersebut. Mereka menjawab, bahwa dampak yang terjadi adalah adanya prilaku anti sosial, dan masalah kesehatan mental ketika mereka masih kecil. Selain itu, mereka juga cenderung melakukan hal yang sama, kepada anak-anaknya.

Berdasarkan laporan UNICEF pada tahun 2014 lalu, sekitar 80% orang tua di seluruh dunia sering melayangkan pukulan pada anaknya, dalam rangka memberi hukuman. Gershoff mencatat bahwa orang tua sering memukul anak-anaknya, tanpa memikirkan terlebih dahulu mengenai ada atau tidak adanya dampak positif dan negatif, pada perilaku anak-anak mereka dari tindakan tersebut.

Para ahli juga sering membandingkan antara memukul dengan kekerasan fisik

Kita sebagai masyarakat awam, sering berpikir bahwa memukul berbeda dengan kekerasan fisik. Namun penelitian kami menunjukan, bahwa memukul berkaitan erat dengan dampak negatif yang diterima anak ketika mereka menerima tindak kekerasan, meskipun dampaknya berada pada tingkat yang sedikit lebih rendah. Kata Gershoff.

Bagaimana pun, perbandingan seperti itu selalu menimbulkan reaksi yang beragam, meskipun para psikolog berpendapat bahwa hukuman fisik dan kekerasan fisik sebenafrnya cukup serupa.

Gershoff juga mencatat bahwa hasil yang koheren, dari studi dan laporan yang dikeluarkan baru-baru ini oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). CDC menyerukan “keterlibatan publik dan kampanye pendidikan serta pendekatan legislatif untuk mengurangi hukuman fisik,” termasuk pukulan, sebagai upaya untuk mengurangi tindakan kekerasan fisik yang terjadi pada anak.

Kami berharap bahwa penelitian kami dapat membantu memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai potensi berbahaya dari perilaku memukul anak dan berharap agar para orang tua bersikap lebih bijak dalam memberi hukuman serta memilih hukuman yang bersifat lebih positif untuk mendisiplinkan anaknya.Turur Gershoff.

Di Swedia memukul anak sudah dilarang sejak tahun 1979. Sementara baru-baru ini, pemerintah Kanada mengusulkan untuk mencabut peraturan yang mereka sebut “hukuman pukul”. Sebagian orang tua setuju dengan usulan pemerintah tersebut, sementara yang lain menentang hal itu.
Itulah ulasan mengenai hukuman fisik berupa pukulan pada anak, berpotensi menyebabkan anak berperilaku agresif dan sering menentang orang tuanya, sahabat sekalian. Dengan begitu, sebelum kamu memukul anakmu ketika ia melakukan sebuah kesalahan, sebaiknya kamu mempertimbangkan terlebih dahulu mengenai dampak apa yang bisa timbul. Semoga informasi tersebut bermanfaat serta dapat menambah wawasan kamu sekalian.
loading...

Subscribe to receive free email updates: